Langsung ke konten

Manajemen pemeliharaan

KPI maintenance: daftar indikator, rumus, dan cara memakainya

Hampir setiap departemen pemeliharaan punya KPI, dan hampir setiap rapat bulanan pernah tersesat di dalamnya: puluhan angka dalam satu slide, definisi yang berbeda antar area, dan tidak ada yang tahu keputusan apa yang harus diambil. Artikel ini membahas KPI maintenance dari pengertiannya, rumus indikator inti, sampai cara memilih sedikit angka yang benar-benar dipakai.

Tim Engineering MachvoryTerbit 14 menit baca

Ringkasan

  • KPI maintenance adalah indikator terukur yang menunjukkan apakah pemeliharaan mencapai tujuannya. Sebagian bersifat lagging (hasil), sebagian leading (proses yang mendahului hasil).
  • Rumus sebagian besar KPI sederhana. Yang menentukan mutu angkanya adalah definisi tertulis dan data work order yang dikodekan secara konsisten.
  • Tidak ada nilai target universal. Bandingkan KPI dengan tren aset dan tim sendiri, bukan dengan angka dari pabrik lain yang definisinya tidak diketahui.
  • Pilih 5 sampai 7 KPI untuk setiap level, dari teknisi sampai plant manager, dan pastikan setiap angka terhubung ke keputusan yang jelas.

Pengertian KPI maintenance

KPI maintenance adalah indikator kinerja utama (key performance indicator) yang dipakai untuk menilai apakah fungsi pemeliharaan mencapai tujuannya. Standar Eropa EN 15341 menguraikan sistem pengelolaan KPI untuk mengukur kinerja pemeliharaan dengan memperhatikan faktor ekonomi, teknis, dan organisasi, dengan tujuan menilai dan memperbaiki efisiensi serta efektivitasnya[1].

Untuk memahami apa yang diukur, definisi pemeliharaan itu sendiri membantu. EN 13306 mendefinisikan pemeliharaan sebagai gabungan semua tindakan teknis, administratif, dan manajerial selama siklus hidup sebuah item, yang ditujukan untuk mempertahankan atau mengembalikannya ke keadaan yang mampu menjalankan fungsi yang disyaratkan[2]. Konsekuensinya, KPI maintenance tidak cukup hanya menyentuh kondisi mesin. Mutu perencanaan, kelengkapan data, biaya, dan cara tim bekerja termasuk di dalamnya.

Tidak setiap angka yang bisa dihitung layak disebut KPI. Jumlah work order bulan ini adalah metrik; ia baru menjadi indikator kinerja bila terhubung dengan tujuan dan keputusan. ISO 55000 menekankan keselarasan ini: tujuan organisasi diterjemahkan menjadi keputusan, rencana, dan kegiatan teknis[3]. KPI yang baik menjembatani keduanya.

Indikator leading dan lagging

Indikator lagging mengukur hasil setelah semuanya terjadi: availability, MTBF, biaya pemeliharaan. Angka ini dirasakan langsung oleh produksi dan keuangan, tetapi datang terlambat. Ketika MTBF sebuah kompresor turun di bulan Mei, penyebabnya mungkin sudah dimulai berbulan-bulan sebelumnya.

Indikator leading mengukur proses yang diyakini mendahului hasil: apakah PM dikerjakan tepat waktu, apakah jadwal mingguan terpenuhi, apakah backlog terkendali, apakah suku cadang tersedia. Bila PM compliance pada kompresor tadi mulai turun di bulan Maret, tim punya waktu untuk bertindak sebelum kegagalannya muncul di angka MTBF.

Keduanya perlu berpasangan. Indikator lagging tanpa pasangan leading hanya memberi tahu bahwa ada masalah, tanpa petunjuk di mana harus bekerja. Indikator leading tanpa pasangan lagging mudah menjadi ukuran kesibukan: PM dikerjakan semua, tetapi kerusakan tidak berkurang. Hubungan keduanya pun adalah dugaan yang perlu diuji dengan data.

Tiga kelompok indikator menurut EN 15341

EN 15341 memandang kinerja pemeliharaan dari tiga sudut: ekonomi, teknis, dan organisasi[1]. Secara umum, indikator ekonomi menyangkut uang, misalnya biaya pemeliharaan dibanding nilai aset, nilai persediaan suku cadang, dan pembagian biaya antara pekerjaan preventif dan korektif. Indikator teknis menyangkut perilaku aset: ketersediaan, frekuensi kegagalan, MTBF, dan MTTR. Indikator organisasi menyangkut cara pekerjaan dikelola: porsi pekerjaan terencana, backlog, kepatuhan pada jadwal, dan pemanfaatan tenaga kerja.

Standar tersebut memuat daftar indikator yang jauh lebih panjang daripada kebutuhan satu pabrik, lengkap dengan definisinya. Manfaat praktisnya ada dua: definisi yang bisa dirujuk, dan pemeriksa keseimbangan. Set KPI yang hanya berisi indikator teknis dapat mencapai availability tinggi dengan lembur mahal dan gudang yang menumpuk suku cadang. Set yang hanya berisi indikator ekonomi dapat menekan biaya sambil membiarkan aset menua tanpa terlihat.

Daftar KPI maintenance inti dan rumusnya

Tabel berikut memuat sebelas indikator yang paling sering dipakai di pabrik. Rumusnya adalah bentuk umum. Setiap organisasi tetap perlu menuliskan definisi rincinya: apa yang disebut kegagalan, jam mana yang dipakai, dan pekerjaan apa yang dihitung sebagai terencana.

Tabel 1. KPI maintenance inti, rumus umum, jenis indikator, dan apa yang ditunjukkannya.
KPIRumus umumJenisYang ditunjukkannya
AvailabilityWaktu aset mampu beroperasi ÷ waktu aset dibutuhkanLaggingSeberapa sering aset siap ketika produksi membutuhkannya
MTBFTotal waktu operasi ÷ jumlah kegagalanLaggingSeberapa jarang aset gagal; dasar penilaian keandalan
MTTRTotal waktu pemulihan ÷ jumlah kegagalanLaggingSeberapa cepat aset kembali berfungsi setelah gagal
Planned maintenance percentage (PMP)Jam pekerjaan terencana ÷ total jam pemeliharaanLeadingPorsi pekerjaan yang dikerjakan dengan rencana, bukan sebagai reaksi
PM compliancePM yang selesai dalam jendela waktunya ÷ PM yang jatuh tempoLeadingApakah program preventif benar-benar dijalankan
Schedule complianceJam pekerjaan terjadwal yang selesai sesuai jadwal ÷ jam yang dijadwalkanLeadingApakah jadwal mingguan dapat dipercaya
BacklogTotal estimasi jam pekerjaan terbuka ÷ jam kru tersedia per mingguLeadingBerapa minggu kerja yang sudah menumpuk di depan tim
Biaya pemeliharaan terhadap RAVBiaya pemeliharaan tahunan ÷ nilai penggantian aset (RAV)LaggingBesarnya belanja pemeliharaan relatif terhadap nilai aset yang dirawat
Rasio pekerjaan daruratJam pekerjaan darurat atau tak terencana ÷ total jam pemeliharaanLaggingSeberapa besar hari kerja tim dikendalikan oleh kerusakan mendadak
First-time fix rateWork order korektif yang tuntas tanpa kunjungan ulang ÷ total work order korektifLaggingMutu diagnosis, keterampilan, dan kesiapan suku cadang
Stockout suku cadangPermintaan suku cadang yang tidak dapat dipenuhi dari gudang ÷ total permintaanLeadingApakah gudang mendukung pekerjaan atau justru memperpanjang MTTR

Hasil bagi dinyatakan dalam persen, kecuali MTBF dan MTTR (jam) serta backlog (minggu). Klasifikasi leading dan lagging bergantung pada pertanyaan yang diajukan: stockout, misalnya, adalah hasil bagi proses gudang tetapi indikator awal bagi MTTR.

Tiga baris pertama dibahas panjang di artikel cara menghitung MTBF dan MTTR. Ringkasnya, MTBF dihitung dari jam operasi, bukan jam kalender, dan MTTR baru bisa ditindaklanjuti setelah diurai menjadi deteksi, diagnosis, menunggu suku cadang, perbaikan, dan pengujian. Availability di sini adalah ketersediaan dari sudut pemeliharaan, yaitu kemampuan aset berada dalam keadaan dapat menjalankan fungsi yang disyaratkan[2]. Ia berbeda dari faktor availability dalam OEE, yang membandingkan waktu berjalan dengan waktu produksi terencana dan ikut menghitung penyetelan serta pergantian produk.

PMP dan PM compliance sering tertukar, padahal pertanyaannya berbeda. PMP bertanya berapa bagian dari seluruh jam pemeliharaan yang dikerjakan dengan rencana. PM compliance bertanya apakah tugas preventif yang jatuh tempo benar-benar dikerjakan. Sebuah pabrik bisa mencatat PM compliance yang tinggi dan PMP yang rendah sekaligus: sedikit tugas PM, semuanya dikerjakan, sementara sebagian besar jam tim habis untuk kerusakan mendadak. Schedule compliance melengkapi keduanya. Palmer memperlakukan jadwal mingguan sebagai komitmen kru berdasarkan jam yang tersedia, dan schedule compliance sebagai ukuran seberapa banyak komitmen itu terpenuhi[4]. Jadwal yang dilanggar karena keadaan darurat yang sungguh-sungguh bukan kesalahan tim, tetapi sinyal yang perlu dibaca bersama rasio pekerjaan darurat.

Biaya pemeliharaan terhadap nilai penggantian aset (replacement asset value, RAV) membandingkan belanja pemeliharaan dengan biaya membangun kembali aset yang sama hari ini. Indikator ini berguna untuk membaca tren di dalam satu perusahaan. RAV adalah taksiran, jadi cara menaksirnya perlu ditulis. Jangan menggantinya dengan nilai buku: nilai buku turun karena penyusutan, sedangkan kebutuhan perawatan mesin yang menua justru cenderung naik.

Menghitung backlog dalam minggu kerja

Backlog yang dilaporkan sebagai jumlah work order menyesatkan. Empat puluh pekerjaan kecil seperti mengganti lampu indikator bisa selesai dalam dua hari, sedangkan lima work order overhaul bisa menyita tim selama sebulan. Palmer menganjurkan backlog dinyatakan dalam minggu kerja kru: total estimasi jam pekerjaan dibagi jam yang dapat diberikan kru setiap minggu[4].

Backlog dalam minggu kerja kru

Backlog (minggu) = total estimasi jam pekerjaan terbuka ÷ jam kru tersedia per minggu

Total estimasi jam: jumlah estimasi jam kerja dari semua work order yang sudah disetujui tetapi belum selesai.

Jam kru tersedia: jam kerja teknisi per minggu setelah dikurangi cuti, pelatihan, rapat, dan waktu lain yang pasti tidak dipakai untuk mengerjakan backlog.

Angka berikut adalah ilustrasi, bukan data dari pabrik tertentu. Sebuah tim mekanik terdiri dari 6 teknisi dengan 40 jam kerja per minggu, sehingga kapasitas kotornya 6 × 40 = 240 jam. Rata-rata 40 jam per minggu habis untuk cuti, pelatihan, dan rapat, sehingga jam kru tersedia adalah 240 − 40 = 200 jam. Work order terbuka yang sudah disetujui berjumlah 58, dengan total estimasi 480 jam. Backlog tim ini adalah 480 ÷ 200 = 2,4 minggu.

Angka itu masih perlu diurai. Dari 480 jam tadi, 180 jam tertahan menunggu suku cadang atau menunggu jadwal henti mesin, dan 300 jam siap dikerjakan. Ready backlog, yaitu backlog yang siap dikerjakan, adalah 300 ÷ 200 = 1,5 minggu, sedangkan pekerjaan yang tertahan setara dengan 180 ÷ 200 = 0,9 minggu. Dua tim dengan backlog total yang sama bisa berada dalam keadaan yang sangat berbeda: yang satu kekurangan orang, yang lain kekurangan suku cadang atau kesempatan menghentikan mesin.

Tren backlog lebih bermakna daripada satu angka. Backlog yang naik terus berarti pekerjaan masuk lebih cepat daripada kemampuan tim menyelesaikannya. Backlog yang mendekati nol juga patut dicurigai: bisa jadi permintaan pekerjaan tidak lagi ditulis karena operator merasa percuma.

Contoh KPI maintenance per level: dari teknisi sampai plant manager

Wireman menyusun indikator pemeliharaan secara bertingkat, dari indikator tingkat korporat sampai indikator fungsional di tingkat pekerjaan sehari-hari[5]. Setiap tingkat mengambil keputusan yang berbeda, sehingga membutuhkan angka yang berbeda pula: plant manager tidak perlu melihat first-time fix rate setiap teknisi.

Dalam praktik, lima sampai tujuh KPI per level adalah jumlah yang masih bisa dibahas tuntas dalam satu rapat. Indikator di level atas sebaiknya dapat ditelusuri ke indikator di level bawah, sejalan dengan prinsip keselarasan dalam ISO 55000[3]: availability aset kritis di meja plant manager harus bisa diurai menjadi MTBF, MTTR, dan PM compliance di meja supervisor.

Tabel 2. Contoh set KPI maintenance per level.
LevelContoh KPIDitinjauKeputusan yang didukung
TeknisiPM compliance untuk tugasnya, first-time fix rate, kelengkapan kode kegagalan pada work order yang ditutup, selisih jam aktual terhadap estimasi, kegagalan berulang pada aset di areanyaHarian dan mingguanPekerjaan mana yang didahulukan dan apa yang perlu dilaporkan ke planner
Planner dan schedulerBacklog dalam minggu (total dan siap dikerjakan), schedule compliance, planned maintenance percentage, akurasi estimasi jam, work order yang direncanakan lengkap sebelum dijadwalkan, stockout suku cadangMingguanIsi jadwal minggu depan, suku cadang yang dipesan, dan pekerjaan yang ditunda
SupervisorSchedule compliance tim, PM compliance, rasio pekerjaan darurat, MTTR per area, first-time fix rate, backlog area, jam lemburMingguanPembagian tenaga, kebutuhan pelatihan, dan eskalasi aset bermasalah
Plant managerAvailability aset kritis, MTBF aset kritis, biaya pemeliharaan terhadap RAV, rasio pekerjaan darurat, tren backlog, insiden keselamatan terkait pemeliharaanBulananAnggaran, jumlah tenaga, investasi penggantian, dan prioritas program keandalan

KPI maintenance untuk planner layak dibahas tersendiri, karena planner sering diukur dengan angka yang bukan wewenangnya, misalnya MTBF. Yang dikendalikan planner adalah mutu rencana: apakah estimasi jam masuk akal, apakah suku cadang, perkakas, dan izin kerja sudah siap sebelum pekerjaan masuk jadwal, dan apakah backlog terkendali. KPI-nya sebaiknya mengukur hal-hal itu. Akurasi estimasi, misalnya, menentukan apakah angka backlog dalam minggu bisa dipercaya sama sekali.

Di level teknisi, KPI paling berguna untuk tim, bukan untuk memeringkat individu. Kelengkapan kode kegagalan masuk daftar karena semua KPI di level atas bergantung padanya. Di level plant manager, daftar didominasi indikator lagging, tetapi tren backlog menjaga agar rapat bulanan tidak hanya membahas masa lalu.

Sumber data: work order yang dikodekan per kegagalan

Hampir semua KPI pada Tabel 1 berasal dari satu sumber, yaitu work order. Wireman menekankan bahwa indikator pemeliharaan hanya sebaik data yang tercatat di sistem work order[5]. Rumus yang benar di atas data yang tidak lengkap tetap menghasilkan angka yang salah, hanya saja kesalahannya tidak terlihat.

ISO 14224 memberi kerangka yang banyak dirujuk untuk data keandalan dan pemeliharaan. Standar ini menyusun peralatan dalam taksonomi bertingkat, dari instalasi sampai komponen yang dapat dipelihara, dan mencatat setiap kegagalan dengan mode kegagalan, mekanisme, penyebab, serta cara kegagalan itu terdeteksi. Data pemeliharaannya mencakup jenis kegiatan, waktu henti, waktu perbaikan aktif, dan jam kerja[6]. Meski ditulis untuk industri minyak dan gas, prinsipnya banyak diadaptasi di pabrik manufaktur. Untuk menghitung KPI inti, setiap work order korektif setidaknya perlu memuat:

  • Aset pada level taksonomi yang tepat, misalnya pompa P-201, bukan sekadar "area utilitas".
  • Cap waktu yang lengkap: saat kegagalan terjadi atau terdeteksi, mulai dikerjakan, tertahan dan dilanjutkan, selesai, dan diserahkan kembali ke produksi.
  • Mode kegagalan dari daftar tertutup, misalnya kebocoran, getaran tinggi, atau tidak mau start, bukan teks bebas.
  • Penyebab dan tindakan yang dipilih dari daftar, dengan catatan bebas sebagai pelengkap.
  • Jam kerja dan suku cadang yang dipakai, termasuk apakah suku cadang tersedia di gudang saat diminta.
Teknisi berhelm kuning dan berseragam biru memperbaiki roda gigi besar pada mesin industri
Gambar 1. Beberapa teknisi berhelm kuning memperbaiki roda gigi besar pada sebuah mesin. Setiap pekerjaan seperti ini menghasilkan satu work order, dan KPI di level mana pun hanya sebaik apa yang dicatat tim setelah pekerjaan selesai. Foto ilustrasi: Kenny / Unsplash

Daftar tertutup terasa merepotkan di awal, tetapi hanya dengan itulah kegagalan dapat dijumlahkan. Catatan "motor rusak, sudah diganti" tidak bisa dikelompokkan dengan "motor mati, ganti unit". Dua catatan berkode overheating pada motor yang sama bisa dihitung dan menjadi alasan untuk analisis akar masalah.

Mengapa KPI maintenance di Excel mudah runtuh

Sebagian besar pabrik memulai KPI maintenance di Excel, dan itu wajar. Templat spreadsheet bisa menghitung semua rumus pada Tabel 1 dengan benar. Masalahnya jarang terletak pada rumus, melainkan pada perjalanan data sampai ke rumus itu.

Masalah pertama adalah rekap manual. Data dari buku work order, formulir kertas, dan pesan grup dikumpulkan di akhir bulan, lalu diketik ulang. Cap waktu diisi dari ingatan, pekerjaan kecil terlewat, dan KPI baru tersedia ketika keputusannya sudah lewat. Masalah kedua adalah definisi yang bergeser. Setiap area memiliki salinan file sendiri, dengan rumus MTTR yang diubah sedikit oleh orang yang berbeda, sampai angka dua area tidak lagi bisa dibandingkan.

Masalah ketiga paling merusak: angka terputus dari sumbernya. Ketika MTTR bulan ini melonjak, tidak ada yang bisa langsung membuka empat work order di baliknya untuk melihat apa yang terjadi. Angka yang tidak bisa diperiksa akhirnya diperdebatkan, bukan dipakai. Excel masih memadai untuk tim kecil dengan sedikit aset, asalkan definisinya tertulis di dalam file dan data dicatat di sumbernya. Ketika rekap bulanan mulai memakan berhari-hari atau angkanya rutin dipersoalkan, sudah waktunya memindahkan pencatatan ke CMMS.

Merancang dashboard KPI maintenance

Dashboard KPI maintenance bukan tempat memajang semua indikator yang bisa dihitung. Dashboard yang berguna menjawab pertanyaan satu level pembaca dalam satu layar, dengan angka yang dapat diperiksa.

  • Satu layar untuk satu level. Pakai set KPI dari Tabel 2, bukan gabungan semuanya.
  • Tampilkan definisi dan jumlah data. MTTR 4 jam dari 3 kejadian dan MTTR 4 jam dari 40 kejadian tidak sama kuatnya. Pembaca perlu melihat keduanya.
  • Utamakan tren. Satu angka bulan ini jarang cukup untuk mengambil keputusan. Untuk aset yang jarang gagal, periode bergulir lebih stabil daripada angka bulanan.
  • Letakkan pasangan leading dan lagging berdampingan, misalnya PM compliance di sebelah MTBF untuk kelompok aset yang sama.
  • Setiap angka dapat diklik sampai ke work order-nya, agar lonjakan bisa diperiksa dalam hitungan menit.
  • Pakai warna hanya untuk batas yang disepakati. Bila semua kartu berwarna merah atau hijau, warnanya tidak lagi berarti apa-apa.
Halaman Maintenance KPI & analytics bulan September 2026 dengan kartu MTTR 4,1 jam dari 4 catatan, MTBF 798 jam, backlog 5 work order, recurring issue 2 kali, dan uraian arti angka
Gambar 2. Contoh halaman KPI maintenance untuk satu bulan pada OPTIMUS ARS, platform yang dikembangkan Machvory: MTTR beserta definisi dan jumlah catatannya, MTBF dari jam operasi dan jumlah kegagalan, backlog work order terbuka, kartu recurring issue, dan uraian tentang arti angka serta keputusan yang perlu diambil, dengan tombol Export PDF. Tangkapan layar sistem yang berjalan.

Langkah menyusun set KPI maintenance

  1. Mulai dari tujuan. Tuliskan dua atau tiga tujuan pemeliharaan tahun ini, misalnya keselamatan, ketersediaan lini kritis, dan kendali biaya.
  2. Tentukan aset kritis. Indikator keandalan dihitung lebih dulu untuk aset yang kegagalannya menghentikan produksi atau membahayakan orang.
  3. Pilih pasangan leading dan lagging untuk setiap tujuan, lalu susun menjadi lima sampai tujuh KPI per level seperti pada Tabel 2.
  4. Tulis kamus KPI. Untuk setiap indikator: definisi, rumus, satuan, sumber data, periode, dan pemiliknya. Rujuk definisi EN 15341 bila tersedia, agar tidak menciptakan istilah sendiri[1].
  5. Siapkan data di sumbernya. Lengkapi work order dengan kode kegagalan, cap waktu, dan estimasi jam sebelum mulai menghitung apa pun[6].
  6. Ukur baseline beberapa bulan sebelum menetapkan target. Target pertama adalah arah perbaikan dari angka sendiri, bukan angka yang dipinjam dari pabrik lain.
  7. Tinjau dengan ritme yang sesuai level, harian atau mingguan di lantai produksi dan bulanan di manajemen, dan catat keputusan yang diambil dari setiap tinjauan.
  8. Evaluasi set KPI setiap tahun. KPI yang tidak pernah memicu satu keputusan pun sebaiknya diganti.

Kesalahan umum dalam memakai KPI maintenance

  • Terlalu banyak KPI. Dua puluh indikator di satu slide berarti tidak ada yang benar-benar dibahas. Setiap tambahan KPI mengurangi perhatian untuk yang lain.
  • Mengganjar angka, bukan hasil. Bila PM compliance dijadikan target bonus, PM cenderung ditutup tanpa dikerjakan dengan sungguh-sungguh. Bila MTTR yang rendah dipuji, work order cenderung ditutup sebelum aset benar-benar diserahkan.
  • Mengukur kepatuhan pada tugas yang salah. PM compliance yang tinggi tidak berarti programnya tepat. Moubray menegaskan bahwa tugas proaktif hanya layak dikerjakan bila secara teknis mampu menangani mode kegagalannya dan sepadan dengan konsekuensi kegagalan tersebut[7].
  • Mencampur definisi. Menjumlahkan MTTR satu area yang dihitung sampai serah terima dengan area lain yang dihitung sampai perbaikan selesai menghasilkan angka yang tidak berarti.
  • KPI tanpa pemilik dan tanpa keputusan. Angka yang dilaporkan setiap bulan tetapi tidak pernah mengubah apa pun hanya menambah beban rekap.
  • Memakai KPI untuk menyalahkan orang. Ketika angka dipakai untuk mencari siapa yang salah, data cenderung dirapikan dan masalah yang sebenarnya menghilang dari laporan.

Kesimpulan

Kegunaan KPI maintenance jarang ditentukan oleh rumusnya, yang hanya berupa pembagian sederhana. Yang menentukan adalah hal-hal di sekitarnya: definisi yang tertulis dan konsisten, work order yang dikodekan per kegagalan, dan jumlah indikator yang cukup sedikit untuk benar-benar dibahas.

Pabrik yang mendapat manfaat dari KPI biasanya memilih sedikit angka per level, memasangkan indikator leading dengan lagging, membandingkannya dengan tren sendiri, dan menghubungkan setiap tinjauan dengan keputusan yang tercatat. Angka yang membaik adalah akibat dari kebiasaan itu, bukan tujuannya.

Pertanyaan yang sering diajukan

Apa yang dimaksud dengan KPI maintenance?

KPI maintenance adalah indikator kinerja utama yang dipakai untuk menilai apakah fungsi pemeliharaan mencapai tujuannya, dari sisi teknis, ekonomi, dan organisasi. Contohnya availability, MTBF, MTTR, PM compliance, dan backlog.

Apa saja contoh KPI maintenance yang umum dipakai?

KPI inti yang umum dipakai adalah availability, MTBF, MTTR, planned maintenance percentage, PM compliance, schedule compliance, backlog, biaya pemeliharaan terhadap nilai penggantian aset, rasio pekerjaan darurat, first-time fix rate, dan stockout suku cadang. Setiap level sebaiknya memakai 5 sampai 7 di antaranya.

Bagaimana cara menghitung backlog maintenance?

Backlog dalam minggu dihitung dari total estimasi jam pekerjaan terbuka dibagi jam kru yang tersedia per minggu. Hasilnya lebih bermakna daripada jumlah work order, terutama bila dipisahkan antara pekerjaan yang siap dikerjakan dan yang tertahan.

Apa KPI yang cocok untuk maintenance planner?

KPI untuk planner sebaiknya mengukur mutu rencana: backlog dalam minggu, schedule compliance, planned maintenance percentage, akurasi estimasi jam, dan kesiapan suku cadang sebelum pekerjaan dijadwalkan.

Apakah KPI maintenance bisa dibuat di Excel?

Bisa, terutama untuk tim kecil, asalkan definisinya tertulis dan data dicatat di sumbernya. Excel mulai bermasalah ketika rekap manual memakan berhari-hari, definisi berbeda antar file, dan angka tidak bisa ditelusuri ke work order di baliknya.

Daftar pustaka

  1. [1]European Committee for Standardization. (2019). EN 15341:2019 Maintenance: Maintenance key performance indicators. CEN.
  2. [2]European Committee for Standardization. (2017). EN 13306:2017 Maintenance: Maintenance terminology. CEN.
  3. [3]International Organization for Standardization. (2014). ISO 55000:2014 Asset management: Overview, principles and terminology. ISO.
  4. [4]Palmer, D. (2019). Maintenance planning and scheduling handbook (4th ed.). McGraw-Hill Education.
  5. [5]Wireman, T. (2005). Developing performance indicators for managing maintenance (2nd ed.). Industrial Press.
  6. [6]International Organization for Standardization. (2016). ISO 14224:2016 Petroleum, petrochemical and natural gas industries: Collection and exchange of reliability and maintenance data for equipment. ISO.
  7. [7]Moubray, J. (1997). Reliability-centered maintenance (2nd ed.). Industrial Press.

Ingin menerapkan ini di pabrik Anda?

Diskusikan kondisi aset dan cara kerja tim Anda dengan engineer kami. Kami bantu menentukan titik awal yang realistis.

  • Tanpa kewajiban membeli
  • Dibalas pada jam kerja berikutnya
  • Bisa langsung via WhatsApp